non-bilingual, sorry.
*lumayan panjang. read at your own risk. hehe.
setiap orang pada awalnya akan memberikan sebuah nama panggilan (nickname) untuk digunakan orang jika mereka akan memanggil dirinya. namun dalam perjalanannya nama panggilan tersebut akan mengalami deformasi serta memperoleh beberapa derivasi yang baik disukai maupun tidak disukai, disengaja maupun tidak disengaja, akan tetap terjadi. kasus ekstremnya, yang juga seringkali terjadi, adalah nama panggilan tersebut benar-benar baru, tidak ada sangkut pautnya dengan nama panggilan yang anda berikan sebelumnya. kenapa? karena pada dasarnya manusia itu kreatif, cerdik, dan suka seenaknya sendiri. ckckck.
tentu saja hal tersebut juga terjadi pada saya. pada beberapa fase saya cukup beruntung dengan tetap dipanggil dengan nama panggilan yang saya berikan. tapi sepandai-pandainya tupai meloncat tentu akan jatuh juga.. (rada ga nyambung tapi nyambung-nyambung juga sih.)
SD
dimulai dengan ‘rachmat’, karena itu nama depan saya. terus bertahan hingga kelas 4. kelas 5 berubah menjadi ‘lianda’ karena ada temen sekelas yg namanya rachmat juga (tentu saja itu berarti nama saya rachmat lianda. duh.) dan terus seperti itu hingga saya lulus SD.
SMP
membawa nama panggilan sebelumnya, jadi saya memperkenalkan diri dengan "nama saya rachmat lianda, panggilan lianda". berhubung tuh nama rada ga biasa (beberapa bilang ky nama cewek, that’s not my fault) jadi mulai deh pada motong-motong sesuka hati. ‘li’ (pengucapannya bisa ky ‘lee’ ato ada sedikit penekanan ‘k’ di huruf ‘i’-nya. mudah-mudahan ngerti maksudnya apa.) sm ‘nda’ yang paling sering muncul tapi entah kenapa muncul juga ‘lin’ dan ‘lili’. ga ngerti deh tuh nama muncul dari mana karena saya yakin nama saya bukan linda, lili, lilinda, dan sejenisnya. 
ada lagi ternyata, saya kelupaan! pas smp itu saya tiap hari bawa bekal dari rumah dan sering banget lauk yg dibawa tuh rendang dan gara-gara itu jadi dapet nickname ‘bundo’, yang diambil dari nama salah satu restoran padang. wew. trus adiknya si oknum yg dengan semena-mena memberi nama itu bikin nickname sendiri jg, ‘MB’, yang merupakan singkatan dari mas bundo. sampe skrg akhirnya dia manggil saya dengan nama itu terus. ya sudahlah pasrah saja.
tak terasa tau-tau saya udah lulus SMP dan masuk ke..
SMA
saya membuat satu kesalahan besar dalam hidup saya di sini, saya memutuskan untuk kembali pada ‘rachmat’ and thus saya memperkenalkan diri dengan "nama saya rachmat lianda, nama panggilan rachmat." awalnya sih pada ikut aturan namun seiring berjalannya waktu tentu saja nama tersebut mengalami perubahan. dimulai dengan pemotongan menjadi ‘mat’ dan entah kenapa mendapat imbuhan ma- di awal dan lahirlah ‘mamat’. tidaaaaakk nama saya bukan mamat dan saya bukan orang sunda atau jawa!!
tentu saja protes yang saya lontarkan tidak dihiraukan karena minoritas kalah pada mayoritas. dan manusia pada dasarnya emang suka seenaknya sendiri. tidak berhenti sampai di situ saja saudara-saudara. anda ingat wabah -ski yang dulu sempat melanda? nama saya pun tidak luput dari incarannya, maka mamat pun kemudian berubah menjadi ‘matski’. ekskul bahasa jepang pun turut memberikan andil dalam penciptaan derivasi baru ‘mato’ dan ‘mat-chan’. dan lagi, saya memperoleh nama panggilan yang tidak ada sangkut pautnya dengan nama panggilan yang saya berikan: ‘cocan’, cowo cantik, yang diberikan oleh cewe-cewe yang merasa kalah cantik dengan saya (serius).
ga tau harus marah ato ketawa tapi akhirnya saya milih ketawa aja lah. cantik itu dosa, mau gimana lagi dong.
akhirnya masa-masa ‘indah’ ini pun berakhir dan saya masuk..
KULIAH
saya sudah menyusun rencana untuk melenyapkan ‘mamat’ dengan mengganti nama panggilan menjadi ‘lianda’ kembali tapi saya gagal. sama seperti salah seorang teman yang berusaha mengganti ‘momon’ dengan ‘randy’. selidik punya selidik ternyata hal ini disebabkan oleh orang-orang yang berasal dari SMA yang sama dengan saya tidak bersedia bungkam dan tetap memanggil saya dengan ‘mamat’. huh. saya balas kalian nanti, lihat saja. di jenjang/fase ini pun daftar nama panggilan saya masih terus bertambah. oknum-oknum tertentu yang merasa kreativitasnya tak tersalurkan mengganti ‘mamat’ dengan ‘machi’, ‘mamachi’, ‘match’, ‘machiko’, dan lainnya yang mungkin tidak saya ingat. well.. masih mending daripada ‘mamat’ sih jadi ya udahlah.
terus ada juga yang seenak jidat ngasih nick ‘J’ dan derivasinya ‘jay’. DON’T ASK. don’t even think about it. untungnya udah ngilang klo nggak… 
trus selain itusaya juga dapet nickname balasan karena seenaknya (saya juga manusia. wahaha.) memberi nickname bul kepada seseorang yg bulat dan dia dengan maksanya membalas memberi ‘bub’ kepada saya. dasar ga mau kalah.
karena ada yang namanya mata kuliah kerja praktek (KP), jadilah saya ambil KP di bank indonesia bandung. saya KP seorang diri di sana jadi ini merupakan kesempatan emas untuk melenyapkan ‘mamat’, setidaknya di sini. tadinya saya mau memperkenalkan diri dengan ‘lianda’ tapi ga jadi, pake ‘rachmat’ ajalah, saya pikir, dan sukses! orang-orang memanggil saya dengan ‘rachmat’!! terharu.
namun tampaknya saya lengah meyadari bahwa ada yang namanya faktor x yang dapat mengakibatkan keberhasilan maupun kegagalan. dalam kasus saya mungkin kegagalan. ada seorang ibu yang memanggil saya dengan ‘dek PKL’ despite the fact that orang-orang manggil saya ‘rachmat’ dan itu dia denger berkali-kali!! DEK PKL!!! FOR GOD’S SAKE!! saya punya nama! huh.
untungnya yang bersangkutan sering ga ada di kantor jadi saya ga sering-sering denger itu. denger-denger ibu tersebut memang tidak terlalu disukai, yang dibuktikan dengan terjadinya suatu konflik yang melibatkan ibu ini dengan salah satu pegawai lain (tentu aja saya mendukung sang pegawai lain) yang terjadi di depan mata saya. overall, dia berkepribadian kurang menyenangkan. dan berpenampilan kurang menyenangkan juga actually (blonde highlights + pink suit + boots + age 40s or 50s is not a really good combination). saya banyak membicarakan ibu ini dengan partner in crime saya, bu mandang, yang akan dibalas dengan ketidaksukaannya dan tambahan bumbu berupaceritanya mengenai fahri-nya yang dia temukan di musholla (baca postingan ini jika anda ga ngerti maksudnya apa) yang akhirnya membuat saya memberinya nickname ‘bu mandang’ yang dia balas dengan memberi saya ‘pak liandang’. (ada yang sudah bisa menebak nama si ibu? pastinya.)
okay, back to topic. jadi klo dirangkum, daftar nama panggilan saya kira-kira akan berupa seperti ini:
1. rachmat
2. lianda
3. li
4. nda
5. lin
6. lili
7. bundo
8. MB
9. mat
10. mamat
11. matski
12. mato
13. mat-chan
14. cocan
15. machi
16. mamachi
17. match
18. machiko
19. J
20. jay
21. bub
‘dek PKL’ ga masuk list karena ga signifikan dan ga penting. i bury that.. thing in the deepest depth of the ocean and befall eternal curse on whoever dare to bring it back from foul stench realm of the netherworld. 
last note, klo misalnya ada yang kemudian bertanya saya jadinya maunya dipanggilnya apaan (hitung banyaknya nya-nya. wahaha.) terserah, mau pilih yang udah ada di daftar yang disebutkan di atas (that explicitly means ‘dek PKL’ ga termasuk), bikin baru, silakan. asal masih dalam koridor dan norma yang berlaku dan ga aneh-aneh. (terserah tapi pake ‘asal’. ga terserah itu sih. haha.)
tapi ya.. yang namanya aturan kan cenderung dilanggar. jadi biar dibilang gt jg tetep aja bakal dilakuin. karena, seperti yang sudah saya sebut di atas, pada dasarnya manusia itu kreatif, cerdik, dan suka seenaknya sendiri. dan lagi peraturan ada kan untuk dilanggar.
don’t take it literally. or not.