sebuah berita yang sangat tidak mengenakkan bagi saya. padahal saya merasa bisa. ternyata cuma perasaan saja. karena mungkin kenyataannya, sebenarnya saya tidak bisa.
dunia runtuh… rasanya? terdengar berlebihan memang, tapi memang kira-kira seperti itu adanya. sedih, kesal, marah, tak percaya. akhirnya hanya duduk terdiam, tidak melakukan apa-apa. tak ada amarah yang tertuang, tak ada racauan yg terlontar, tak ada air mata yang tertumpah, hanya diam, kosong, sepi, tanpa suara.
tanpa saya sadari saya meraih telepon genggam di sisi meja, menghubungi dua org yang kebetulan muncul di kepala saya. tadinya mereka bukan siapa-siapa, hanya orang asing yang tak pernah terpikir akan saya ajak bicara apalagi cerita. tapi itu tadi, itu dulu, sekarang beda. sekarang mereka siapa-siapa, mereka berjalan bersama saya.
yang satu sibuk memberi lelucon berusaha menghibur dengan ceria. berlebihan dan tidak lucu sayangnya. tapi sedikit banyak meringankan beban di pundak saya. sementara satunya sibuk memberi dukungan dan wejangan semampunya. biasanya saya yg mengatakan hal-hal seperti itu kepadanya, tapi untuk kali ini sebaliknya. tadinya saya terus berduka, tidak mau membuka mata. tadinya saya lihat itu cuma sebagai hiburan belaka, hanya supaya saya bisa tidur tanpa membasahi bantal dengan air mata. tapi mereka membuat saya bertanya.
apa yg saya dapat dengan memperoleh nilai sempurna?
kesempatan bekerja di perusahaan ternama,
dari jam tujuh sampai jam lima,
dengan gaji sepuluh juta,
dan kenaikan pangkat setelahnya?
apa itu tujuan utama,
yang saya damba
agar dapat meraih bahagia?
menjalani rutinitas yg saya sendiri tak yakin dapat menikmatinya,
demi setumpuk uang dan sekotak harta
untuk menjamin keluarga dan hari tua?
mungkin tidak, mungkin juga ya
tapi kalaupun memang itu yang saya minta
apakah kegagalan, ketidakberhasilan menggenggam sempurna
sepenuhnya menutup kesempatan dan pintu yang terbuka?
apakah setelah jatuh dan terluka
saya harus meringkuk dalam gelap gulita
meratap dan merasa ini akhir dari dunia?
apa iya?
hanya karena sekumpulan indeks dan angka?
dan saya berujar dalam hati saya,
bodohnya.
bodoh, dungu, melukai logika.
sebuah tamparan di muka,
sakit, perih, luka,
anehnya membutakan mata dengan cahaya.
diam di sini dan kamu tak akan maju selamanya. diam di sini dan kamu hanya akan merasa putus asa. diam di sini dan sementara orang-orang berlari kamu hanya akan duduk diam tanpa daya. saya yakin bukan seperti itu akhir yg saya minta. saya tahu bukan itu yang saya panjatkan dalam doa. saya tidak mau mengakhiri kisah saya dengan tumpahan tinta. masih banyak kata, masih banyak kalimat menunggu untuk dibaca. masih halaman yang belum dibuka. yang perlu saya lakukan hanya memberi jeda. saya tidak boleh lupa. saya masih ingin mengisi halaman-halaman kosong itu dengan cerita. dan saya ingin akhirnya, penutupnya, adalah bahagia.
tidak, ini bukan akhirnya, penutupnya,
ini hanya sebuah jeda.
saya masih punya seribu pena.
Untuk kalian berdua: thank you. :]


yayy!
ya kan kaya yang saya bilang, maju ke depan itu musti, harus, dan bisa.
[wekkkkkkkkkk!!!
]
Comment by amras — June 16, 2007 @ 6:31 pm
eh iya.. ini mah kelupaan. you’re welcome.
jangan patah semangat pokoknya! kita semua itu berjuang kok untuk bisa maju terus. yay.
[yayy!]
Comment by amras — June 16, 2007 @ 6:33 pm
ayo jadi orang dewasa! orang yang gak terikat masa lalu dan berani melangkah maju meraih masa depan gemilaaang… ahahaha…
[yuk mari..
]
Comment by mandhut — June 16, 2007 @ 10:36 pm