iya. cantik itu dosa.
mari bicara tentang prostitusi. saya sempat berkomentar di sebuah forum diskusi mengenai hal ini dan saya rasa topik ini cukup menarik untuk saya angkat ke blog saya.
a risky topic i know, but it’s time to open our eyes.
they are not there. they are here.
karena apa sih seseorang memutuskan untuk terjun ke dunia prostitusi ini?
karena emang pengen?
mungkin beberapa tapi tidak semua segila mereka yang menjawab iya.
balas dendam, pelampiasan terhadap ketidakcukupan kasih sayang dan perhatian?
ada juga, tapi itu bukan alasan utama.
terus kenapa?
uang?
tentu aja.
what else? keterampilan apapun ga punya, uang ga ada, cari kerja ga ada yg mau nerima. wajar aja kalo kemudian mereka memilih untuk melacur, dengan apa yg mereka punya. tubuhnya.
kata ‘pelacur’ mungkin agak kurang tepat imo kalau secara spesifik ditujukan untuk para prostitute itu karena, mengutip perkataan seseorang, setiap profesi pun sebenarnya melacurkan sesuatu dalam pelaksanaannya. kuli melacurkan tenaga, pengacara, dokter, programmer melacurkan pengetahuan spesifiknya, model melacurkan kecantikannya, prostitute pun serupa. ia melacurkan tubuhnya.
mungkin kemudian anda akan mengaitkan ini dengan agama, moral, dan etika. saya tidak bilang anda salah tapi saya juga tidak bisa bilang mereka salah. sekali lagi, itu pilihan. mereka berhak memilih jalan yg mereka mau tanpa ada paksaan menempuh jalan lainnya, sama seperti anda juga berhak memilih jalan anda tanpa ada paksaan untuk menempuh jalan lainnya.
satu tema yg saya rasa menarik untuk dibahas lebih lanjut:
prostitusi dilegalkan, setuju atau tidak?
saya sendiri cenderung untuk menyetujui kalau prostitusi ini dilegalkan. sebelum anda teriak2 saya ga bermoral, ga belajar agama, dan mau manggil FPI, denger (baca) dulu penjelasan saya. abis itu terserah mau apa. kalau anda macam2 toh saya tinggal bilang "kebebasan berpendapat saya diperkosa".
saya hanya berusaha memaparkan opini saya, kalau anda tidak setuju that’s fine, you’re entitled to your own opinion and so do i.
prostitusi ga perlu yg ky begituan. dilarang-larang bakal tetep ada juga karena dari situ mereka bisa makan, diteriakin FPI jg ga bakal didenger kecuali mereka bisa kasih makan, digrebek-grebek jg buat apa, ilang bentar abis itu bakal nongol lagi, karena bagi mereka itu mata pencaharian.
buat apa sih nglakuin hal-hal yg ga nyata pengaruhnya gt?
i mean, come on, jadi ‘orang tua’ yg bijak dikit kek.
jangan karena punya anak bandel, anak bandel itu dikejar-kejar mulu trus anak yg lain dibiarin. ga ada yg beres jadinya. kasih pengertian, klo dia ga mau denger ya udah, itu pilihan dia. kasih perhatian ke anak yg lain, yg bersedia ngdengerin apa yg dibilang terhadap mereka.
mengenai profesinya sendiri, seperti yg udah saya sebut sebelumnya, mau setuju ato ga setuju profesi itu tetep ada. mau ngecap ga bermoral ato apapun, mereka bakal tetap di sana. mereka telah memutuskan klo itu pilihan mereka. kalopun nantinya mereka memilih untuk ‘ganti haluan’, itu juga keputusan mereka, dan itu berasal dari mereka sendiri. jadi klo emang mau ngasih penyuluhan, ya kasih lah, tapi jangan yg isinya "melacur itu tidak baik, itu dosa dll blabla..". they won’t buy those shit. mereka bukan anak sd. kasih pembelajaran keterampilan yang bermanfaat tanpa nuntut mereka harus quit the ‘profession’ setelahnya. kasih mereka bekal tapi jangan paksa mereka langsung menghabiskannya setelah bekal itu diberikan. mereka akan menggunakan jika mereka perlu dan itu akan dilakukan karena mereka emang mau.
ngasih perhatian sih ngasih perhatian, tapi berikan pada tempatnya, sesuai porsinya, dan sesuai kebutuhannya.
comments anyone?
AKHIRNYAAAAAAAAA!!!!!!!!! 
sebuah film yg menjawab ‘tantangan’ yg pernah saya berikan suatu waktu dahulu. cast-nya bnyk yg ga pernah sy dgr sblmnya, sutradaranya jg, cerita ga tipikal (not some shitty teen love), ending memuaskan, akting ga blebihan, dialog ga maksa!!! yayy!! bagusss!! ![]()
menurut saya nih film kebalikannya "3 hari untuk selamanya" banget deh. 
tema yg diangkat rada mirip sm "arisan!" tp dengan penyelesaian yg beda walau konflik yg ingin ditampilkan cenderung sama. terus.. yg paling sy suka itu dialognya. natural, ga dibuat2. klo inget dialog di "3 hari untuk selamanya", jauh bgt dah. ga ada tuh yg sok2 ngomongin populasi pulau jawa. pembangunan karakter tokohnya jg bs dibilang sukses imo, kliatan beda wataknya. trus walaupun ni film kesannya ngiklan bgt, dgn kemunculan bbrp produk dalam adegan2, ngiklannya itu msh dalam tahap wajar, ky misalnya kotak WRP sm L-Men deket meja makan, ga ky "3 hari untuk selamanya" yg tau2 ada Circle K nongol ga jelas fungsinya apaan.
terus.. oh iya. kliatannya bnyk adegan ga perlu yg diselipin, tp sebenernya setelah diliat kaitannya sm adegan setelahnya adegan2 yg kliatannya ga penting itu sebenernya ngbawa alur ceritanya spy maju dengan wajar, ga tau2 muncul tanpa penjelasan. again, ga ky "3 hari untuk selamanya" yg emg bnyk adegan ga pentingnya, ky the whole sendangsono and those ‘baks’ things.
trus yg paling penting… endingnya!!!
semua bahagia tapi bukan that typical happily ever after. 
ga maksa. wajar. pantas. ga ky "3 hari untuk selamanya" yg… kentut itu. ![]()
to summarize that, i really like this film. sy suka film ini.
mungkin karena saya ga expect apa2 daripada kecewa karena film indonesia yg sy liat sblmnya (udah disebut berkali2 sebelumnya) bnr2 jelek. bnr2… JELEK. dan mungkin krn sblmnya sy memprediksi klo ni film bakal berakhir seperti trashy teen film lainnya (you know what i mean, don’t make me mention it, wahaha). ato mungkin karena semua aspek pada film itu sesuai sama apa yg harapkan dari sebuah film bagus, menurut saya.
intinya: salah satu film indonesia yg bagus lah. lbh lucu dr "nagabonar 2" imo. 
highly recommended!
p.s. kenapa saya cenderung membandingkannya dgn "3 hari untuk selamanya"? krn tuh film di-hype bgt kynya, entah artisnya, menang awardnya, ceritanya, apapun lah tp sy sm skali ga menemukan sisi bagusnya. sementara film ini, yg hampir ga pernah sy dgr kabarnya, tau2 muncul, malah bgs bgt.
jadi.. yah… apa boleh buat. 
p.s.2 buat yg ga setuju, you’re entitled to your own opinion. ga perlu ngomong yg ga perlu di sini karena.. like i care enough to care. buat yg setuju.. mari bergosip. 
sebuah berita yang sangat tidak mengenakkan bagi saya. padahal saya merasa bisa. ternyata cuma perasaan saja. karena mungkin kenyataannya, sebenarnya saya tidak bisa.
dunia runtuh… rasanya? terdengar berlebihan memang, tapi memang kira-kira seperti itu adanya. sedih, kesal, marah, tak percaya. akhirnya hanya duduk terdiam, tidak melakukan apa-apa. tak ada amarah yang tertuang, tak ada racauan yg terlontar, tak ada air mata yang tertumpah, hanya diam, kosong, sepi, tanpa suara.
tanpa saya sadari saya meraih telepon genggam di sisi meja, menghubungi dua org yang kebetulan muncul di kepala saya. tadinya mereka bukan siapa-siapa, hanya orang asing yang tak pernah terpikir akan saya ajak bicara apalagi cerita. tapi itu tadi, itu dulu, sekarang beda. sekarang mereka siapa-siapa, mereka berjalan bersama saya.
yang satu sibuk memberi lelucon berusaha menghibur dengan ceria. berlebihan dan tidak lucu sayangnya. tapi sedikit banyak meringankan beban di pundak saya. sementara satunya sibuk memberi dukungan dan wejangan semampunya. biasanya saya yg mengatakan hal-hal seperti itu kepadanya, tapi untuk kali ini sebaliknya. tadinya saya terus berduka, tidak mau membuka mata. tadinya saya lihat itu cuma sebagai hiburan belaka, hanya supaya saya bisa tidur tanpa membasahi bantal dengan air mata. tapi mereka membuat saya bertanya.
apa yg saya dapat dengan memperoleh nilai sempurna?
kesempatan bekerja di perusahaan ternama,
dari jam tujuh sampai jam lima,
dengan gaji sepuluh juta,
dan kenaikan pangkat setelahnya?
apa itu tujuan utama,
yang saya damba
agar dapat meraih bahagia?
menjalani rutinitas yg saya sendiri tak yakin dapat menikmatinya,
demi setumpuk uang dan sekotak harta
untuk menjamin keluarga dan hari tua?
mungkin tidak, mungkin juga ya
tapi kalaupun memang itu yang saya minta
apakah kegagalan, ketidakberhasilan menggenggam sempurna
sepenuhnya menutup kesempatan dan pintu yang terbuka?
apakah setelah jatuh dan terluka
saya harus meringkuk dalam gelap gulita
meratap dan merasa ini akhir dari dunia?
apa iya?
hanya karena sekumpulan indeks dan angka?
dan saya berujar dalam hati saya,
bodohnya.
bodoh, dungu, melukai logika.
sebuah tamparan di muka,
sakit, perih, luka,
anehnya membutakan mata dengan cahaya.
diam di sini dan kamu tak akan maju selamanya. diam di sini dan kamu hanya akan merasa putus asa. diam di sini dan sementara orang-orang berlari kamu hanya akan duduk diam tanpa daya. saya yakin bukan seperti itu akhir yg saya minta. saya tahu bukan itu yang saya panjatkan dalam doa. saya tidak mau mengakhiri kisah saya dengan tumpahan tinta. masih banyak kata, masih banyak kalimat menunggu untuk dibaca. masih halaman yang belum dibuka. yang perlu saya lakukan hanya memberi jeda. saya tidak boleh lupa. saya masih ingin mengisi halaman-halaman kosong itu dengan cerita. dan saya ingin akhirnya, penutupnya, adalah bahagia.
tidak, ini bukan akhirnya, penutupnya,
ini hanya sebuah jeda.
saya masih punya seribu pena.
Untuk kalian berdua: thank you. :]
..td saya bertemu lagi dengan orang yg saya sebutkan di postingan di bawah.
situasinya membaik? err.. tidak. saya masih tetap tidak bisa berbicara secara wajar dengannya.
…ya sudahlah.